Menyikapi Dampak Kerusakan Lingkungan Hidup, Apa Yang Harus Dilakukan Guru?

Beberapa waktu lalu, di Auditorium Museum Geologi Bandung saya menghadiri Seminar Sehari Tentang Peristiwa Bencana Geologi. Kegiatan yang dimaksudkan untuk memberikan pandangan-pandangan tentang lingkungan hidup kepada guru-guru Fisika dan GeografiKotaBandung diselenggarakan atas kerjasama Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral dan Himpunan Fisika Indonesia. Sebelumnya, PPPPTK IPA bekerjasama dengan Pemda Jawa Barat juga menyelenggarakan kegiatan serupa dengan maksud memberikan pengetahuan lingkungan hidup kepada guru-guru TK untuk memberikan penyadaran pentingnya pendidikan lingkungan hidup sejak usia dini. Gubernur Jawa Barat, Danny Setiawan, memberikan sambutan pada acara tersebut.

Kegiatan seperti itu harus terus diselenggarakan, mengingat di Indonesia sering sekali terjadi bencana alam. Sebagai gambaran, antara tahun 1998 – 2004 terjadi 1150 kali bencana dengan korban jiwa 9900 orang serta kerugian sebesar Rp. 5922 milyar. Tiga bencana utama adalah banjir (402 kali, korban 1144 jiwa, kerugian Rp. 647,04 milyar), kebakaran (193 kali, korban 44 jiwa, kerugian Rp. 137,25 milyar), dan tanah longsor (294 kali, korban 747 jiwa, kerugian Rp. 21,44 milyar). Dan yang sampai sekarang masih ditangani oleh pemerintah adalah bencana lumpur panas Lapindo. Kalau dicermati, beberapa di antara jenis bencana alam tersebut merupakan bencana yang ‘’bisa direncanakan’’. Artinya kejadiannya terkait oleh tangan manusia, yang antara lain karena salah mengelola lingkungan hidup. Bencana-bencana besar seperti banjir, tanah longsor, kebakaran hutan, dan kekeringan lebih banyak disebabkan oleh salah kelola lingkungan hidup.

Jika pencemaran dan kerusakan lingkungan dibiarkan akan merugikan diri sendiri, dengan kata lain kita sedang mambangun lingkungan yang akan mengubur diri sendiri, dan generasi yang akan datang ikut menanggung resiko akibat ulah kita saat ini. Bagaimana mengurangi dampak pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh alam dan manusia? Bagaimana usaha-usaha kita untuk mengatasi dampak pencemaran lingkungan? Usaha apa yang dilakukan guru di sekolah untuk menggagas pembelajaran sains dalam pelestarian lingkungan? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang perlu kita jawab bersama.

Kemudian apa yang harus dilakukan oleh guru? Bapak dan ibu guru sebagai agen pembelajaran di sekolah dapat berbuat banyak untuk membantu mengatasi bencana alam, khususnya bencana yang ‘’bisa direncanakan’’ tadi. Oleh karena itu ajakan-ajakan untuk mencintai alam dan mengelola lingkungan hidup bisa dimulai dari institusi sekolah, selain institusi lainnya. Beberapa daftar kerja yang harus dilakukan guru antara lain: (1) memasukkan pesan-pesan PLH dalam silabus dan RPP; (2) menyisipkan pesan-pesan PLH dalam semua pelajaran, terutama pelajaran sains; (3) membuat dan menyusun langkah-langkah dalam pelaksanaan PLH di lingkungan sekolah; (4) mempraktekkan PLH dalam kehidupan di lingkungan sekolah dan rumah; (5) menjadikan lingkungan (ekosistem) sebagai sumber belajar; (6) ada usaha-usaha dari Dinas Pendidikan terkait dengan PLH, misalnya mengadakan lomba kebersihan sekolah, lomba taman sekolah, dan UKS; (7) melakukan berbagai upaya untuk mencegah bencana alam; dan (8) merencanakan berbagai kegiatan yang dapat dilakukan sekolah di masa depan.

Saya berharap melalui ajakan untuk melestarikan lingkungan dan kerjasama untuk mewujudkannya akan dapat dibangun pendidikan di sekolah, di rumah, dan di dalam masyarakat yang terus menerus mampu meningkatkan kesadaran, pemahaman, dan tindakan nyata untuk bersama-sama melestarikan lingkungan demi keberlanjutan dan keselamatan perkembangan generasi mendatang, karena bumi ini bukan milik kita tetapi merupakan titipan dari anak cucu kita semua.

Herry Sukarman,

Kepala P4TK IPA Bandung

 

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: